Kelompok 5
Ratna yuningsih 1113052000008
M Chotib Iqbal 1113052000025
Indah nurmalasari 1113052000026
Ridwan Gunawan 1113052000032
Isna
Mutmainah 1113052000047
KEPRIBADIAN MARXIAN
ERICH FROMM
Erich Fromm adalah salah satu seorang tokoh psikoanalisa. beliau
lahir pada tanggal 20 Maret 1900 di Frankfurt, Jerman, dalam sebuah keluarga
ortodoks. Ayahnya adalah seorang
pengusaha (businessman). Kehidupan keluarganya tidak bahagia. Karakter
Fromm terbentuk dari keadaan keluarganya pada saat itu. Ayahnya seorang yang
pemarah,penyendiri, emosinya cedrung tidak stabil, dan ibunya adalah seorang
yang gampang depresi. Dia menggambarkan dirinya sebagai seorang yang “unbearable,
neurotic child”. Fromm kemudian melanjutkan pendidikannya di bidang
psikologi dan sosiologi di Universitas Heidelberg, Frankfurt dan Munich.
Setelah mendapat gelar Ph.D dari Heidelberg tahun 1922, ia belajar
Psikoanalisis Berlin yang terkenal. Ia pergi ke Amerika Serikat pada tahun 1933
sebagai lector di Institut Psikoanalisis Chicago kemudian ia melakukan privat
di New York City. Ia pernah mengajar di sejumlah Universitas dan Isntitut di
New York dan Meksiko. Kemudian Fromm tinggal di Swiss. Buku-bukunya mendapat
perhatian luar biasa, tidak hanya oleh ahli-ahli di bidang psikologi,
sosiologi, filsafat, dan agama tetapi juga oleh masyarakat umum.
Fromm sangat dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Karl Marx, terutama
pada karya-karyanya yang pertama, The Economic and Philosophical Manuscripts
yang ditulis pada 1844. Karya Karl Marx ini yang diterjemahkan dalam bahaa
Inggris oleh T. B. Bottormore termuat dalam Marx’s concept of man
karangan Fromm (1961), Fromm membandingkan ide-ide Freud dan Marx, menyelidiki
kontradiksi-kontradiksinya dan mencoba melakukan sintesis. Meskipun Fromm dapat
disebut sebagai seorang teoritikus kepribadian Mraxian, namun ia sendiri lebih
suka disebut “humanis dialektik”. Tema dasar dari semua tulisan Fromm adalah
mengenai orang-orang yang merasa kesepian dan terasing karena di pisahkan dari
alam dan manusia lainnya.
KONDISI EKSISTENSI
MANUSIA
1.
Dilema Eksistensi
Menurut Fromm, hakekat
manusia juga bersifat dualistic. Paling tidak ada
empat dualistic di dalam diri manusia :
a.
Manusia sebagai binatang dan sebagai manusia
Manusia sebagai binatang
memiliki banyak kebutuhan fisiologik yang harus dipuaskan, seperti kebutuhan
makan, minum, dan kebutuhan seksual. Manusia sebagai manusia memiliki kebutuhan
kesadaran diri, berfikir, dan berimajinasi. Kebutuhan manusia itu maujud dalam
pengalaman khas manusia meliputi perasaan lemah lembut, cinta, kasihan,
perhatian, tanggung jawab, identitas, integrasi, sedih, transendensi,
kebebasan, nilai dan norma.
b.
Hidup
dan Mati
Kesadaran diri dan fikiran
manusia telah mengetahui bahwa dia akan mati, tetapi manusia berusaha
mengingkarinya dengan meyakini adanya kehidupan sesudah mati, dan usaha-usaha
yang tidak sesuai dengan fakta bahwa kehidupan akan berakhir dengan kematian.
c.
Ketidak
sempurnaan dan kesempurnaan
Manusia mampu mengkonsepkan
realisasi diri yang sempurna, tetapi karena hidup itu pendek kesempurnaan tidak
dapat dicapai. Ada orang berusaha memecahkan dikotomi ini melalui mengisi
rentang sejarah hidupnya dengan prestasi di bidang kemanusiaan, dan ada pula
yang meyakini dalil kelanjutan perkembanganya sesudah mati.
d.
Kesendirian
dan kebersamaan
Manusia adalah pribadi yang
mandiri, sendiri, tetapi manusia juga tidak bisa menerima kesendirian. Manusia
menyadari diri sebagai individu yang terpisah, dan pada saat yang sama juga
menyadari kalau kebahagiaannya tergantung kepada kebersamaan dengan orang lain.
Dualisme itu, aspek binatang dan manusia, kehidupan dan kematian, ketidak
sempurnaan dan kesempurnaan, kesendirian dan kebersamaan, merupakan kondisi
dasar eksistensi manusia.
Konflik yang di bawa lahir
antara tesa-antitesa eksistensi manusia disebut dilemma eksistensi. Disatu sisi
manusia berjuang untuk bebas, menguasai lingkungan dengan hakekat
kemanusiannya, disisi lain kebebasan itu memperbudak manusia dengan memisahkan
hakekat kebinatangan dari akar-akar alaminya. Anak yang berjuang untuk
memperoleh otonomi diri mungkin menjadi dalam kesendirian yang membuatnya
merasa tidak berdaya dan kesepian; masyarakat yang berjuang untuk merdeka
mungkin merasa lebih terancam oleh isolasi dari bangsa lain. Ada dua cara
menghindari dilema eksistensi, pertama dengan menerima otoritas dari luar
tunduk kepala kepada penguasa dan menyesuaikan
diri dengan masyarakat. Manusia menjadi budak (dari pengguna negara)
untuk mendapatkan perlindungan / rasa aman. Cara kedua, orang bersatu dengan
oranglain dalam semangat cinta dan kerja sama, menciptakan ikatan dan tanggung
jawab bersama dari masyarakat yang lebih baik.
Kebutuhan
Manusia
Pada
umumnya, kata “kebutuhan” diartikan sebagai kebutuhan fisik, yang oleh fromm
dipandang sebagai kebutuhan aspek kebinatangan dari manusia yakni kebutuhan
makan, minum, seks, dan bebas rasa sakit. Kebutuhan manusia dalam arti
kebutuhan sesuai dengan eksistensinya sebagai manusia. Menurut fromm meliputi
dua kelompok kebutuhan; pertama kebutuhan untuk menjadi bagian dari sesuatu dan
menjadi otonom, yang terdiri dari kebutuhan Relatedness, Rootedness, Transcendency,
Unity, dan Identy. Kebutuhan memahami dunia, mempunyai tujuan dan
memanfaatkan sifat unik manusia, yang terdiri diri dari kebutuhan frame of
orientation, frame of devotion, Excitation-stimulation, dan Effectiveness.
Kebutuhan
Kebebasan dan keterikatan
1. Keterhubungan (Relatedness) : Kebutuhan
mengatasi perasaan kesendirian dan terisolasi dari alam dan dari dirinya
sendiri. Kebutuhan untuk bergabung dengan makhluk lain yang dicintai, menjadi
bagian dari sesuatu.
2. Keberakaran (Rootedness) :
Kebutuhan keberakaran adalah kebutuhan
untuk memilih ikatan-ikatan yang membuatnya merasa krasan didunia (merasa
seperti dirumahnya). Keberakaran adalah kebutuhan untuk mengikat diri dengan
kehidupan.
3.
Menjadi
pencipta (Transcendency) : Orang membutuhkan peningkatan diri, berjuang untuk mengatasi sifat
pasif dikuasai alam menjadi aktif, bertujuan dan bebas, dari makhluk ciptaan
menjadi pencipta.
4.
Kesatuan
(Unity) :
Kebutuhan untuk mengatasi eksistensi keterpisahan antara hakekat binatang dan
non binatang dalam diri seseorang. Orang dapat mencapai unitas, kalau hakekat
kebinatangan dan kemanusiaan itu bisa didamaikan.
5. Identitas (identity) : Kebutuhan
menjadi “Aku” , kebutuhan untuk sadar dengan dirinya sendiri sebagai sesuatu
yang terpisah. Manusia harus merasakan dapat mengontrol nasibnya sendiri, harus
bisa membuat keputusan, dan merasa bahwa hidupnya nyata-nyata miliknya sendiri.
Orang primitif mengidentifikasikan diri dengan sukunya, dan tidak melihat
dirinya sendiri sebagai bagian yang terpisah dari kelompoknya.
Kebutuhan untuk
memahami dan beraktivitas
1. Kerangka orientasi (frame of orientation) : Kerangka
orientasi adalah seperangkat keyakinan mengenai eksistensi hidup, perjalanan
hidup-tingkahlaku bagaimana yang harus dikerjakannya, yang mutlak dibutuhkan
untuk memperoleh kesehatan jiwa.
2. Kerangka kesetiaan (frame of devotion) : Kebutuhan
untuk memiliki tujuan hidup yang mutlak; Tuhan. Orang membutuhkan sesuatu yang
dapat menerima seluruh pengabdian hidupnya, sesuatu yang membuat hidupnya
menjadi bermakna. Kerangka pengabdian adalah peta yang mengarahkan pencarian
makna hidup, menjadi dasar dari nilai-nilai dan titik puncak dari semua
perjuangan,
3. Keterangsangan- stimulasi (Excitation-stimulation)
: kebutuhan untuk melatih system
syaraf, untuk memanfaatkan kemampuan otak. Manusia membutuhkan bukan sekedar
stimulus sederhana (misalnya: makanan), tetapi stimuli yang tidak cukup
direaksi saat itu, tetapi harus direspon secara aktif, produktif, dan
berkelanjutan.
4. Keefektivan (Effectiveness)
:
Kebutuhan untuk menyadari eksistensi diri-melawan perasaan tidak mampu dan
melatih kompetensi/kemampuan.
Mekanisme Melarikan Diri
dari Kebebasan
Masyarakat
kapitalis kotemporer menempatkan orang sebagai korban dari pekerjaan mereka
sendiri. Konflik antara kencenderungan mandiri dengan ketidak percayaan dapat merusak kesehatan mental. Menurut Fromm
ciri orang yang normal atau yang mentalnya sehat adalah orang yang mampu
bekerja produktif sesuai dengan tuntutan sosialnya sekaligus mampu
berpartisipasi dalam kehidupan sosial yang penuh cinta. Menurut Fromm
normalitas adalah keaadaan optimal dari pertumbuhuhan (kemandirian) dan kebahagiaan (kebersamaan)
dari individu.
Pada
dasarnya ada dua cara untuk memperoleh makna dan kebersamaan dalam kehidupan.
Pertama, mencapai kebebasan positif yakni berusaha menyatu dengan oranag lain,
tanpa mengorbankan kebebasan dan integritas pribadi. Kedua, memperoleh rasa
aman dengan meninggalkan kebebasan dan menyerahkan bulat-bulat individualitas
dan integritas diri kepada sesuatu bisa orang atau lembaga) yang dapat memberi
rasa aman. Cara memperoleh rasa aman dengan berlindung dibawah kekuatan lain, disebut
fromm mekanisme pelarian. Mekanisme pelarian sepanjang dipakai sekali waktu,
adalah dorongan yang normal pada semua orang, baik individual maupun kolektif.
Ada tiga mekanisme pelarian yang terpenting, yakni otoritarianisme, destruktif,
dan konfromitas.
Otoritarianisme (authoritarianisme)
Kecenderungan
untuk menyerahkan kemandirian diri dan menggabungkannya dengan seseorang atau
sesuatu diluar dirinya, untuk memperoleh kekuatan yang dirasakan tidak
dimilikinya. Kebutuhan untuk meggabung dengan partner yang memiliki kekuatab
bisa berupa masokisme atau sadisme, masokisme merupakan hasil perasaan dasar
tidak berdaya, lemah dan inferior yang dibawa saat menggabungkan diri dengan
orang atau institusi yang memiliki power sehingga kekuatan itu tertuju atau menindas
dirinya. Masokisme merupakan bentuk tersembunyi dari perjuangan memperoleh
cinta dari kesetiaan, tetapi tidak memberikan sumbangan posisi kemandirian.
Sadisme,
seperti mekanisme dipakai untuk meredakan kecemasan dasar melalui penyatuan
diri dengan oranglain untuk institusi. Ada tiga jenis sadisme yang saling
berkaitan yakni; membuat oranglain tergantung kepada dirinya sehingga
memperoleh kekuatan dari orang lain yang lebih lemah, mengeksploitasai dan
mengambil keuntungan dari orang lain, dan kecenderungamn melihat orang lain
secara fisik atau fisikis. Sadisme merupakan bentuk neorotik yang lebih parah
dan lebih berbahaya karena mengancam orang lain dibanding masokisme.
Perusakan (destruktiveness)
Seperti
otoritarianisme destruktif berakar pada perasaan kesepian, isolasi dan tak
berdaya. Destruktif mencari kekuatan tidak melalui membangun hubungan dengan
pihal luar, tetapi melalui usaha mebalas atau merusak kekuatan orang lain,
individu bahkan negara dapat memakai strategi destruktif, merusak orang atau
obyek, dalam rangka memperoleh rasa kuat yang hilang.
Penyesuaian (conformity)
Bentuk
pelarian dari perasaan kesepian dan isolassi berupa penyerahan individualita
dan menjadi apa saja seperti yang diinginkan kekuatan dari luar. Orang menjadi
robot, mereaksi sesuatu yang direncanakandan mekanis menuruti kemauan orang
lain. Konformis tidak pernah mengekspresikan opini dirinya, menyerahkan diri
kepada standar tingkah laku yang diharapkan, dan sering tampil diaam dan
mekanis.
Orang
modern merasa bebas dari ikatan luar, dan bebas bertingkahlaku sesuai dengan
kemauan sendiri, tetapi pada saat yang sama mereka tidak tahu dengan keinginan,
fikiran dan perasaannya sendiri. Akhirnya mereka menyesuaikan diri menjadi
mesin otomat kepada otoritas yang anonim dan mengadopsi kepada self yang tidak
nyata. Semakin mereka menyesuaikan diri, semakin mereka merasa tak berdaya,
semakin mereka merasa tak berdaya, Semakin mereka menyesuaikan diri. Orang
hanya dapat memecah lingkaran penyesuaian dengan ketakberdayaan ini kalau bisa
mencapai realisai atau kebebasan yang positif.
Tipologi Sosial
Karakter sosial menurut fromm karakter manusia
berkembang berdasarkan kebutuhan mengganti insting kebinatangan yang hilang
ketika mereka berkembang tahap demi tahap. Binatang tingkat rendah sejak lahir
hidup diatur oleh instingnya. Bayi manusia, lahir tak berdaya sekaligus dengan
insting minimal, jadi manusia harus belajar bagaimana bertingkah laku. Karakter,
yang tidak berubah lintas waktu, membuat manusia mampu berfungsi di dunia yang
terus menurus memberi stimulus tanpa harus berhenti memikirkan apa yang harus
dikerjakan.
Fromm
membedakan 2 karakter sosial dalam pasangan, yakni productiveness
(masing-masing yang berorientasi positif) dan nonproductiveness (hidup yang
berorientasi negatif)
Karakter dan Masyarakat
Fromm
mencoba menjelaskan model masyarakat dengan pendekatan sejarah. Orientasi resepsi
pertama-tama dikembangkan dalam masyarakat kuno dengan kekuatan feudal, tuan-buruh.
Orientasi eksploitasi dikembangkan pada abad 18-19 dalam konteks mentalitas
perampok dan pengusaha daerah yang korup. Orientasi hoarding (menimbun) dikembangkan
bersama-sama dengan orientasi eksploitatif pada kelompok menenggah yang rajin
menabung untuk keamanan hari tua. Orientasi market adalah produk masyarakat
dewasa ini yang peluang interprenernya dikurangi, dan orang harus menyesuaikan
diri kedalam organisasi yang besar dan memerankan peran yang dikehendaki
organisasi. Masyarakat membentuk karakter pribadi melalui orang tua dan
pendidik yang membuat anak bersedia beringkahlaku seperti yang dikehendaki
masyarakat.
Aplikasi
Sosialisme Komunitarian
Humanistik
Fromm
mempunyai 4 proposisi mengenai hubungan ini:
1. Manusia mempunyai
kodrat esensial sosial bawaan
2. Masyarakat
diciptakan manusia untuk memenuhikodrat esensial bawaan ini
3. Tidak satupun
bentuk masyarakat yang pernah diciptakan manusia berhasil mmenuhi kebutuhan-
kenutuhan dasar eksensial manusia
4. Adalah mungkin
menciptakan masyarakat semaca itu.
Masyarakat
yang disaran kan fromm adalah humanistic communitarian socialism (sosialisme
komunitarian humanistik), masyarakat dimana orang-orang bergaul dengan cinta,
yang berakar dalam hubungan persaudaraan dan solidaritas.
Karakter Masyarakat
Pada
tahun 1957, fromm melakukan penelitian disebuah desa dimeksiko mengenai
karakter masyarakat. Ada dua kesimpulan penting, pertama ternyata masyarakat
memiliki tiga jenis karakter:
1. Productive-hoarding:
pemilik tanah yang memegangi nilai tradisioanal dalam praktek pengerjaan
pertanian skala kecil-kekuasaan, tanggung jawab dan mempertahankan tradisi
2. Nonproductive-receptive:
petani tak punya tanah yang tunduk pada kekuasan, taat beragama bahkan sampai
fatalistik, menerima nasibnya yng tidak berkekuatan
3. Productive-exploitative:
enterpreneur yang menyesuaikan diri dengan masyarakat industri baru, nilai
pendidiakan, teknologi dan mobilitas sosial.
Kedua,
dari pengembangan karakter-karakter masyarakat itu dapat disimpulkan bahwa karakter pribadi dan karaktersosil
berhubungan timbal balik,. Karakter pribadi dipengaruhi dan mempengaruhi oleh
struktur sosial dan perubahan-perubahan sosial.
Psikotrapi: Psikoanalisis
Humanistik
Fromm
mengembangkan sistem terapi sendiri, yang dinamakannya psikoanalisis
humanistik. Dibanding dengan psikoanalisis freud, fromm lebih peduli dengan aspek
interpersoanal dari hubungan teraputik. Menurutnya tujuan klien dalam terapi
adalah untuk memahami diri sendiri. Tanpa pengetahuan tentang diri sendiri,
orang tidak akan tahu orang lain.
Evaluasi
Erich
Fromm mungkin penulis paling brilian dari semua teoritisi kepribadian. Dia
menuis esayyang sangat bagus dirana politik internasioanl, masalah keagamaan,
masalah psikologi dan hari tua, mengenai hilterm freud, dan kristus, dan banyak
lagi topik lainnya. Inti semua tulisannya adalah mengungkap hakekat manusia.
Sumber
Alwisol,
Psikologi kepribadian, (2009), UMM Pess: malang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar