Senin, 11 April 2016

KEPRIBADIAN MARXIAN ERICH FROMM



Kelompok 5
Ratna yuningsih 1113052000008
M Chotib Iqbal 1113052000025
Indah nurmalasari 1113052000026
Ridwan Gunawan 1113052000032
Isna Mutmainah 1113052000047
KEPRIBADIAN MARXIAN
ERICH FROMM
Erich Fromm adalah salah satu seorang tokoh psikoanalisa. beliau lahir pada tanggal 20 Maret 1900 di Frankfurt, Jerman, dalam sebuah keluarga ortodoks.  Ayahnya adalah seorang pengusaha (businessman).  Kehidupan keluarganya tidak bahagia. Karakter Fromm terbentuk dari keadaan keluarganya pada saat itu. Ayahnya seorang yang pemarah,penyendiri, emosinya cedrung tidak stabil, dan ibunya adalah seorang yang gampang depresi. Dia menggambarkan dirinya sebagai seorang yang “unbearable, neurotic child”. Fromm kemudian melanjutkan pendidikannya di bidang psikologi dan sosiologi di Universitas Heidelberg, Frankfurt dan Munich. Setelah mendapat gelar Ph.D dari Heidelberg tahun 1922, ia belajar Psikoanalisis Berlin yang terkenal. Ia pergi ke Amerika Serikat pada tahun 1933 sebagai lector di Institut Psikoanalisis Chicago kemudian ia melakukan privat di New York City. Ia pernah mengajar di sejumlah Universitas dan Isntitut di New York dan Meksiko. Kemudian Fromm tinggal di Swiss. Buku-bukunya mendapat perhatian luar biasa, tidak hanya oleh ahli-ahli di bidang psikologi, sosiologi, filsafat, dan agama tetapi juga oleh masyarakat umum.
Fromm sangat dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Karl Marx, terutama pada karya-karyanya yang pertama, The Economic and Philosophical Manuscripts yang ditulis pada 1844. Karya Karl Marx ini yang diterjemahkan dalam bahaa Inggris oleh T. B. Bottormore termuat dalam Marx’s concept of man karangan Fromm (1961), Fromm membandingkan ide-ide Freud dan Marx, menyelidiki kontradiksi-kontradiksinya dan mencoba melakukan sintesis. Meskipun Fromm dapat disebut sebagai seorang teoritikus kepribadian Mraxian, namun ia sendiri lebih suka disebut “humanis dialektik”. Tema dasar dari semua tulisan Fromm adalah mengenai orang-orang yang merasa kesepian dan terasing karena di pisahkan dari alam dan manusia lainnya. 
KONDISI  EKSISTENSI  MANUSIA
1.    Dilema Eksistensi
   Menurut Fromm, hakekat manusia juga bersifat dualistic. Paling tidak ada empat dualistic di dalam diri manusia :
a.    Manusia sebagai binatang dan sebagai manusia
   Manusia sebagai binatang memiliki banyak kebutuhan fisiologik yang harus dipuaskan, seperti kebutuhan makan, minum, dan kebutuhan seksual. Manusia sebagai manusia memiliki kebutuhan kesadaran diri, berfikir, dan berimajinasi. Kebutuhan manusia itu maujud dalam pengalaman khas manusia meliputi perasaan lemah lembut, cinta, kasihan, perhatian, tanggung jawab, identitas, integrasi, sedih, transendensi, kebebasan, nilai dan norma.
b.             Hidup dan Mati
   Kesadaran diri dan fikiran manusia telah mengetahui bahwa dia akan mati, tetapi manusia berusaha mengingkarinya dengan meyakini adanya kehidupan sesudah mati, dan usaha-usaha yang tidak sesuai dengan fakta bahwa kehidupan akan berakhir dengan kematian.
c.              Ketidak sempurnaan dan kesempurnaan
   Manusia mampu mengkonsepkan realisasi diri yang sempurna, tetapi karena hidup itu pendek kesempurnaan tidak dapat dicapai. Ada orang berusaha memecahkan dikotomi ini melalui mengisi rentang sejarah hidupnya dengan prestasi di bidang kemanusiaan, dan ada pula yang meyakini dalil kelanjutan perkembanganya sesudah mati.
d.             Kesendirian dan kebersamaan
   Manusia adalah pribadi yang mandiri, sendiri, tetapi manusia juga tidak bisa menerima kesendirian. Manusia menyadari diri sebagai individu yang terpisah, dan pada saat yang sama juga menyadari kalau kebahagiaannya tergantung kepada kebersamaan dengan orang lain. Dualisme itu, aspek binatang dan manusia, kehidupan dan kematian, ketidak sempurnaan dan kesempurnaan, kesendirian dan kebersamaan, merupakan kondisi dasar eksistensi manusia.
   Konflik yang di bawa lahir antara tesa-antitesa eksistensi manusia disebut dilemma eksistensi. Disatu sisi manusia berjuang untuk bebas, menguasai lingkungan dengan hakekat kemanusiannya, disisi lain kebebasan itu memperbudak manusia dengan memisahkan hakekat kebinatangan dari akar-akar alaminya. Anak yang berjuang untuk memperoleh otonomi diri mungkin menjadi dalam kesendirian yang membuatnya merasa tidak berdaya dan kesepian; masyarakat yang berjuang untuk merdeka mungkin merasa lebih terancam oleh isolasi dari bangsa lain. Ada dua cara menghindari dilema eksistensi, pertama dengan menerima otoritas dari luar tunduk kepala kepada penguasa dan menyesuaikan  diri dengan masyarakat. Manusia menjadi budak (dari pengguna negara) untuk mendapatkan perlindungan / rasa aman. Cara kedua, orang bersatu dengan oranglain dalam semangat cinta dan kerja sama, menciptakan ikatan dan tanggung jawab bersama dari masyarakat yang lebih baik.
Kebutuhan Manusia
Pada umumnya, kata “kebutuhan” diartikan sebagai kebutuhan fisik, yang oleh fromm dipandang sebagai kebutuhan aspek kebinatangan dari manusia yakni kebutuhan makan, minum, seks, dan bebas rasa sakit. Kebutuhan manusia dalam arti kebutuhan sesuai dengan eksistensinya sebagai manusia. Menurut fromm meliputi dua kelompok kebutuhan; pertama kebutuhan untuk menjadi bagian dari sesuatu dan menjadi otonom, yang terdiri dari kebutuhan Relatedness, Rootedness, Transcendency, Unity, dan Identy. Kebutuhan memahami dunia, mempunyai tujuan dan memanfaatkan sifat unik manusia, yang terdiri diri dari kebutuhan frame of orientation, frame of devotion, Excitation-stimulation, dan Effectiveness.
Kebutuhan Kebebasan dan keterikatan
1.      Keterhubungan (Relatedness) : Kebutuhan mengatasi perasaan kesendirian dan terisolasi dari alam dan dari dirinya sendiri. Kebutuhan untuk bergabung dengan makhluk lain yang dicintai, menjadi bagian dari sesuatu.
2.      Keberakaran (Rootedness) : Kebutuhan  keberakaran adalah kebutuhan untuk memilih ikatan-ikatan yang membuatnya merasa krasan didunia (merasa seperti dirumahnya). Keberakaran adalah kebutuhan untuk mengikat diri dengan kehidupan.
3.      Menjadi pencipta (Transcendency) : Orang membutuhkan peningkatan diri, berjuang untuk mengatasi sifat pasif dikuasai alam menjadi aktif, bertujuan dan bebas, dari makhluk ciptaan menjadi pencipta.
4.      Kesatuan (Unity) : Kebutuhan untuk mengatasi eksistensi keterpisahan antara hakekat binatang dan non binatang dalam diri seseorang. Orang dapat mencapai unitas, kalau hakekat kebinatangan dan kemanusiaan itu bisa didamaikan.
5.      Identitas (identity) : Kebutuhan menjadi “Aku” , kebutuhan untuk sadar dengan dirinya sendiri sebagai sesuatu yang terpisah. Manusia harus merasakan dapat mengontrol nasibnya sendiri, harus bisa membuat keputusan, dan merasa bahwa hidupnya nyata-nyata miliknya sendiri. Orang primitif mengidentifikasikan diri dengan sukunya, dan tidak melihat dirinya sendiri sebagai bagian yang terpisah dari kelompoknya.

Kebutuhan untuk memahami dan beraktivitas

1.      Kerangka orientasi (frame of orientation) : Kerangka orientasi adalah seperangkat keyakinan mengenai eksistensi hidup, perjalanan hidup-tingkahlaku bagaimana yang harus dikerjakannya, yang mutlak dibutuhkan untuk memperoleh kesehatan jiwa.
2.      Kerangka kesetiaan (frame of devotion) : Kebutuhan untuk memiliki tujuan hidup yang mutlak; Tuhan. Orang membutuhkan sesuatu yang dapat menerima seluruh pengabdian hidupnya, sesuatu yang membuat hidupnya menjadi bermakna. Kerangka pengabdian adalah peta yang mengarahkan pencarian makna hidup, menjadi dasar dari nilai-nilai dan titik puncak dari semua perjuangan,
3.      Keterangsangan- stimulasi (Excitation-stimulation) :  kebutuhan untuk melatih system syaraf, untuk memanfaatkan kemampuan otak. Manusia membutuhkan bukan sekedar stimulus sederhana (misalnya: makanan), tetapi stimuli yang tidak cukup direaksi saat itu, tetapi harus direspon secara aktif, produktif, dan berkelanjutan.
4.       Keefektivan (Effectiveness) : Kebutuhan untuk menyadari eksistensi diri-melawan perasaan tidak mampu dan melatih kompetensi/kemampuan.
Mekanisme Melarikan Diri dari Kebebasan
Masyarakat kapitalis kotemporer menempatkan orang sebagai korban dari pekerjaan mereka sendiri. Konflik antara kencenderungan mandiri dengan ketidak percayaan  dapat merusak kesehatan mental. Menurut Fromm ciri orang yang normal atau yang mentalnya sehat adalah orang yang mampu bekerja produktif sesuai dengan tuntutan sosialnya sekaligus mampu berpartisipasi dalam kehidupan sosial yang penuh cinta. Menurut Fromm normalitas adalah keaadaan optimal dari pertumbuhuhan  (kemandirian) dan kebahagiaan (kebersamaan) dari individu.
Pada dasarnya ada dua cara untuk memperoleh makna dan kebersamaan dalam kehidupan. Pertama, mencapai kebebasan positif yakni berusaha menyatu dengan oranag lain, tanpa mengorbankan kebebasan dan integritas pribadi. Kedua, memperoleh rasa aman dengan meninggalkan kebebasan dan menyerahkan bulat-bulat individualitas dan integritas diri kepada sesuatu bisa orang atau lembaga) yang dapat memberi rasa aman. Cara memperoleh rasa aman dengan berlindung dibawah kekuatan lain, disebut fromm mekanisme pelarian. Mekanisme pelarian sepanjang dipakai sekali waktu, adalah dorongan yang normal pada semua orang, baik individual maupun kolektif. Ada tiga mekanisme pelarian yang terpenting, yakni otoritarianisme, destruktif, dan konfromitas.
Otoritarianisme (authoritarianisme)
Kecenderungan untuk menyerahkan kemandirian diri dan menggabungkannya dengan seseorang atau sesuatu diluar dirinya, untuk memperoleh kekuatan yang dirasakan tidak dimilikinya. Kebutuhan untuk meggabung dengan partner yang memiliki kekuatab bisa berupa masokisme atau sadisme, masokisme merupakan hasil perasaan dasar tidak berdaya, lemah dan inferior yang dibawa saat menggabungkan diri dengan orang atau institusi yang memiliki power sehingga kekuatan itu tertuju atau menindas dirinya. Masokisme merupakan bentuk tersembunyi dari perjuangan memperoleh cinta dari kesetiaan, tetapi tidak memberikan sumbangan posisi kemandirian.
Sadisme, seperti mekanisme dipakai untuk meredakan kecemasan dasar melalui penyatuan diri dengan oranglain untuk institusi. Ada tiga jenis sadisme yang saling berkaitan yakni; membuat oranglain tergantung kepada dirinya sehingga memperoleh kekuatan dari orang lain yang lebih lemah, mengeksploitasai dan mengambil keuntungan dari orang lain, dan kecenderungamn melihat orang lain secara fisik atau fisikis. Sadisme merupakan bentuk neorotik yang lebih parah dan lebih berbahaya karena mengancam orang lain dibanding masokisme.
Perusakan (destruktiveness)
Seperti otoritarianisme destruktif berakar pada perasaan kesepian, isolasi dan tak berdaya. Destruktif mencari kekuatan tidak melalui membangun hubungan dengan pihal luar, tetapi melalui usaha mebalas atau merusak kekuatan orang lain, individu bahkan negara dapat memakai strategi destruktif, merusak orang atau obyek, dalam rangka memperoleh rasa kuat yang hilang.
Penyesuaian (conformity)
Bentuk pelarian dari perasaan kesepian dan isolassi berupa penyerahan individualita dan menjadi apa saja seperti yang diinginkan kekuatan dari luar. Orang menjadi robot, mereaksi sesuatu yang direncanakandan mekanis menuruti kemauan orang lain. Konformis tidak pernah mengekspresikan opini dirinya, menyerahkan diri kepada standar tingkah laku yang diharapkan, dan sering tampil diaam dan mekanis.
Orang modern merasa bebas dari ikatan luar, dan bebas bertingkahlaku sesuai dengan kemauan sendiri, tetapi pada saat yang sama mereka tidak tahu dengan keinginan, fikiran dan perasaannya sendiri. Akhirnya mereka menyesuaikan diri menjadi mesin otomat kepada otoritas yang anonim dan mengadopsi kepada self yang tidak nyata. Semakin mereka menyesuaikan diri, semakin mereka merasa tak berdaya, semakin mereka merasa tak berdaya, Semakin mereka menyesuaikan diri. Orang hanya dapat memecah lingkaran penyesuaian dengan ketakberdayaan ini kalau bisa mencapai realisai atau kebebasan yang positif.
Tipologi Sosial
Karakter  sosial menurut fromm karakter manusia berkembang berdasarkan kebutuhan mengganti insting kebinatangan yang hilang ketika mereka berkembang tahap demi tahap. Binatang tingkat rendah sejak lahir hidup diatur oleh instingnya. Bayi manusia, lahir tak berdaya sekaligus dengan insting minimal, jadi manusia harus belajar bagaimana bertingkah laku. Karakter, yang tidak berubah lintas waktu, membuat manusia mampu berfungsi di dunia yang terus menurus memberi stimulus tanpa harus berhenti memikirkan apa yang harus dikerjakan.
Fromm membedakan 2 karakter sosial dalam pasangan, yakni productiveness (masing-masing yang berorientasi positif) dan nonproductiveness (hidup yang berorientasi negatif)
Karakter dan Masyarakat
Fromm mencoba menjelaskan model masyarakat dengan pendekatan sejarah. Orientasi resepsi pertama-tama dikembangkan dalam masyarakat kuno dengan kekuatan feudal, tuan-buruh. Orientasi eksploitasi dikembangkan pada abad 18-19 dalam konteks mentalitas perampok dan pengusaha daerah yang korup. Orientasi hoarding (menimbun) dikembangkan bersama-sama dengan orientasi eksploitatif pada kelompok menenggah yang rajin menabung untuk keamanan hari tua. Orientasi market adalah produk masyarakat dewasa ini yang peluang interprenernya dikurangi, dan orang harus menyesuaikan diri kedalam organisasi yang besar dan memerankan peran yang dikehendaki organisasi. Masyarakat membentuk karakter pribadi melalui orang tua dan pendidik yang membuat anak bersedia beringkahlaku seperti yang dikehendaki masyarakat.
Aplikasi
Sosialisme Komunitarian Humanistik
Fromm mempunyai 4 proposisi mengenai hubungan ini:
1.      Manusia mempunyai kodrat esensial sosial bawaan
2.      Masyarakat diciptakan manusia untuk memenuhikodrat esensial bawaan ini
3.      Tidak satupun bentuk masyarakat yang pernah diciptakan manusia berhasil mmenuhi kebutuhan- kenutuhan dasar eksensial manusia
4.      Adalah mungkin menciptakan masyarakat semaca itu.
Masyarakat yang disaran kan fromm adalah humanistic communitarian socialism (sosialisme komunitarian humanistik), masyarakat dimana orang-orang bergaul dengan cinta, yang berakar dalam hubungan persaudaraan dan solidaritas.
Karakter Masyarakat
Pada tahun 1957, fromm melakukan penelitian disebuah desa dimeksiko mengenai karakter masyarakat. Ada dua kesimpulan penting, pertama ternyata masyarakat memiliki tiga jenis karakter:
1.      Productive-hoarding: pemilik tanah yang memegangi nilai tradisioanal dalam praktek pengerjaan pertanian skala kecil-kekuasaan, tanggung jawab dan mempertahankan tradisi
2.      Nonproductive-receptive: petani tak punya tanah yang tunduk pada kekuasan, taat beragama bahkan sampai fatalistik, menerima nasibnya yng tidak berkekuatan
3.      Productive-exploitative: enterpreneur yang menyesuaikan diri dengan masyarakat industri baru, nilai pendidiakan, teknologi dan mobilitas sosial.
Kedua, dari pengembangan karakter-karakter masyarakat itu dapat disimpulkan  bahwa karakter pribadi dan karaktersosil berhubungan timbal balik,. Karakter pribadi dipengaruhi dan mempengaruhi oleh struktur sosial dan perubahan-perubahan sosial.
Psikotrapi: Psikoanalisis Humanistik
Fromm mengembangkan sistem terapi sendiri, yang dinamakannya psikoanalisis humanistik. Dibanding dengan psikoanalisis freud, fromm lebih peduli dengan aspek interpersoanal dari hubungan teraputik. Menurutnya tujuan klien dalam terapi adalah untuk memahami diri sendiri. Tanpa pengetahuan tentang diri sendiri, orang tidak akan tahu orang lain.
Evaluasi 
Erich Fromm mungkin penulis paling brilian dari semua teoritisi kepribadian. Dia menuis esayyang sangat bagus dirana politik internasioanl, masalah keagamaan, masalah psikologi dan hari tua, mengenai hilterm freud, dan kristus, dan banyak lagi topik lainnya. Inti semua tulisannya adalah mengungkap hakekat manusia.

Sumber
Alwisol, Psikologi kepribadian, (2009), UMM Pess: malang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar