Senin, 11 April 2016

islam dan kesehatan mental



ISLAM DAN KESEHATAN MENTAL
Description: C:\Users\TEMP\Documents\uin.jpg

Di Susun Oleh:
Syahrul Iman                1113052000031
Cahya Ristia                 1113052000001
Isna Mutmainah          1113052000047
                             Hajar Aswad                1113052000022

JURUSAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2015
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb.
Pertama-tama puji dan syukur kami panjatkan dengan hati dan pikiran yang tulus atas kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan Ridho-Nya kami dapat menyelasaikan makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
            Shalawat beserta salam semoga selalu terlimpah curahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, karena dengan segala perjuangan-Nya kita dapat mengisi lembar demi lembar kehidupan ini dalam keadaan aman, nyaman dan tentram. Jauh dari apa yang Nabi rasakan dalam membangun peradaban ini menjadi jauh lebih baik lagi. Semoga dengan segala kesempatan terbaik ini, kita dapat meningkatkan frekuensi keimanan dan ketakwaan kita terhadap Allah SWT, dan juga menambah rasa mahabah kita terhadap Nabi Muhammad SAW.
            Dan tak lupa kami haturkan beribu-ribu terimakasih kepada Ibu Nasichah selaku dosen pengampu pada mata kuliah Islam dan Kesehatan Mental, yang telah membimbing dan mengarahkan penyusunan dalam pembuatan tugas makalah.
            Kiranya dalam penulisan makalah ini ada kekeliruan dan kesalahan kami mohon kritik dan saran yang membangun motivasi kami. Demikianlah yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Jakarta, 1 Desember 2015.





FUNGSI IMAN DALAM KESEHATAN MENTAL
            Apabila seseorang dikuasai oleh perasaan semata, sudah pasti bakal banyak masalah akan terjadi, karena tindakan dan perbuatannya sukar untuk dipertanggung jawabkan dan sulit mengukur dan menilainya. Ukuran perasaan itu sangat mudah berubah dan banyak macam, menurut keadaan dan tempat. Akan tetapi, jika yang dipentingkan hanya pikiran (rasio) saja, perasaan tidak diindahkan, maka akan sukarlah orang bergaul. Perasaan itu tidak bisa disingkarkan sama sekali, karena ia bekerja dan mempunyai pengaruh yang tidak disadari oleh pikiran. Seseorang yang keimanannya telah menguasainya, walau apapun yang terjadi tidak akan menggaggu atau mempengaruhinya. Ia yakin bahwa keimanan itu akan membawanya kepada ketentraman dan kelegaan batin. Maka sesuatu yang diimani itu hendaknya selalu ada dan terpelihara baik. Apabila yang dipercayai itu pada suatu ketika hilang atau tidak mententramkannya lagi, maka disini akan timbul kegoncangan perasaan yang kadang-kadang sampai menyebabkan terjadinya perselisihan dalam keluarga atau dalam masyarakat.
            Orang yang mempercayai benda-benda kermat, azimat dan sebagainya itu biasanya selama benda-benda tersebut ada padanya dan tampak memberi manfaat, maka ia akan merasa tentram, tapi kalau benda tersebut hilang atau tidak menolongnya lagi, maka kegelisahan yang akan terjadi. Obyek keimanan yang tidak akan berubah manfaatnya dan tidak akan pernah hilang, adalah keimanan yang ditentukan oleh agama. Dalam agama Islam, terkenal enam macam pokok keimanan (arkanul Iman). Semuanya mempunyai fungsi yang menentukan dalam Kesehatan Mental seseorang.
Dalam uraian berikut kan kita bicarakan pengaruh masing-masing pokok keimanan itu dalam Kesehatan Mental.[1]
1.      Iman Kepada Allah SWT.
Keimanan adalah suatu proses kejiwaan yang tercakup di dalamnya semua fungsi jiwa, perasaan dan pikiran sama-sama meyakinkannya. Apabila iman tidak sempurna, maka manfaatnya bagi kesehatan  mental pun kurang sempurna pula. Misalnya belakangan ini di negara kita boleh dikatakan bahwa semua orang percaya kepada Tuhan YME. Akan tetapi alangkah banyaknya orang yang tidak mampu menggunakan kepercayaannya itu dalam hidupnya mereka gelisah, hidup tdak tentram, dimana-mana terjadi pertengkaran dan kemusuhan, baik dirumah tangga maupun dalam masyarakat.
      Untuk dapat mencapai keimanan yang sungguh dan menjamin kebahagiaan hidup, maka bagi seorang Muslim, percaya kepada Tuhan YME itu harus mencakup pula percaya akan segala sifat-sifat-Nya. Kepercayaan akan sifat-sifat-Nya itu, harus ada realisasinya dalam segala sikap dan tindakan.
Kepercayaan kepada Tuhan YME. Seperti telah kita jelaskan sangat penting bagi Kesehatan Mental manusia, kepercayaan tersebut harus dimanfaatkan, digunakan dengan cara mendekatkan diri kepada-Nya, dengan mematuhi segala suruhan dan menghentikan semua larangan-Nya, serta hidup dalam tuntunan dan bimbingan-Nya, supaya selamat dunia akhirat.
2.      Iman Kepada Hari Akhir
Kita tahu bahwa semua agama samawi, percaya akan adanya hidup sesudah mati, dimana akan ada perhitungan terhadap manusia atas tindakan dan perbuatannya di dunia. Bahkan samawi pun, juga mempercayai akan adanya hidup sesudah hidup yang sekarang ini.
Hari Kiamat: kapankah dimulai hidup di alam akhirat itu? Tentunya setelah alam dunia ini berakhir. Pertanyaan yang tidak terjawab, akan menggelisahkan batin. Karena itu, percaya akan apa yang disebutkan Allah itu akan dapat menentramkan hati yang gelisah
Hidup sesudah mati: Termasuk yang harus dipercayai pula dalam rangkaian iman akan hari akhirat itu ialah bahwa semua orang sejak dunia terkembang sampai hari kiamat akan bangkit, hidup kembali.
Perhitungan dan pembalasan: Diantara masalah yang terpenting dalam kepercayaan akan adanya alam akhirat, yang membawa kepada ketentaraman batin pula, adalah adanya perhitungan dan pembalasan atas segala amal perbuatan di dunia,
Surga dan neraka: Percaya akan adanya surga dan neraka termasuk salah satu bagian dari kepercayaan akan adanya akhirat.
Jadi kepercayaan akan adanya hari akhirat mencakup segala sesuatu yang berhubungan dengan akhirat itu, mulai dari hari kiamat, hari berbangkit, perhitungan dan pembalasan (dengan surga atau neraka), akan menentramkan batin, selanjutnya menjamin Kesehatan Mental yang dibutuhkan oleh setiap jiwa.
3.      Iman Kepada Malaikat
Dalam ajaran Islam, kita disuruh mempercayai adanya Malaikat, bahkan termasuk dalam salah satu pokok (rukun) iman. Kepercyaan terhadap tugas Malaikat yang disebutkan Tuhan dalam Al-Quran juga mempunyai pengaruh dalam kesehatan mental. Salah satu tugas Malaikat yang disebut dalam Al-Quran, yang mempunyai pengaruh terhadap ketentaraman batin manusia adalah “mendoakan dan   ampun bagi orang-orang Mukmin, seperti tersebut dalam Surat Al Mu’min ayat 7 s.d 9. Dalam ayat-ayat tersebut diatas, jelas sekali betapa besar perhatian Malaikat terhadap manusia. Dimintakannya ampun atas segala kesalahan (dosa) yang telah dilakukan oleh orang-orang yang beriman, didoakannya kepada Tuhan agar orang beriman itu terlepas dari siksa neraka, serta dimasukkan kedalam surga.
Dengan ringkas dapat kita katakan bahwa kepercayaan akan adanya malaikat, yang saleh, taat dan suka mendoakan dan mintakan ampun itu, mempunyai arti yang besar bagi Kesehatan Mental.
4.      Iman Kepada Kitabullah
Kita mengetahui bahwa setiap agama mempunyai kitab Suci, yang merupakan pedoman pokok dari ajaran agama tersebut. Dalam agama Islam Kitab Sucinya adalah Al-Quran. Setiap orang Islam wajib mempercayai bahwa Al-Quran adalah Kalamulah, yang langsung datang dari Allah SWT. Kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan perantara Malaikat Jibril. Yang dimaksud dengan kepercayaan akan Kitabullah ialah Kepercayaan akan Kitab Suci yang diturunkan Allah kepada Rasul-rasul-Nya, yang mengandung pedoman dan tuntunan bagi umat manusia, datang-Nya dari Allah dan segala isinya benar.
Kepercayaan akan kebenaran isi kitab-kitab Suci itu menentramkan batin, demikian juga keyakinan bahwa datangnya dari Allah pun menghindarkan kecemasan dan kegoncangan jiwa. Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa kepercayaan akan kitab-kitab Suci yang diturunkan Allah itu menambah Kesehatan Mental.
5.      Iman Kepada Rasul-rasul Allah
Apabila kita tidak percaya bahwa Nabi-nabi atau Rasul-rasul itu Utusan Allah, maka tidak akan dapat kita menjalankan agama, karena tuntunan yang dibawa oleh Nabi-nabi itu tersimpul dalam agama. Selanjutnya kita tidak akan sanggup pula mendekatkan diri kepada Allah, sehingga berakibat datangnya kecemasan dan kegelisahan. Dengan mempercayai semua Nabi-nabi utusan Allah, beserta ajaran-ajaran agama yang mereka bawa, akan dapatlah seluruh umat beragama didunia ini bersatu, hidup rukun dan damai, dengan penuh penghargaan, pengertian dan kasih sayang. Karena yang menimbulkan perselisihan dan percekcokan antara penganut satu agama dan lainnya adalah rasa tidak dihargai atau dipandang hina dan disangka palsu.
Dari segi Kesehatan Mental, dapat dengan tegas kita katakan bahwa kepercayaan kepada Nabi-nabi Allah itu menentramkan batin dan memungkinkan persatuan dengan semua penganut agama yang mereka bawa. Karena pengakuan terhadap seseorang berarti menghargai dan menempatkannya dalam tempat yang wajar.
6.      Iman Kepada Takdir
Diantara pokok ajaran Islam yang sering menjadi sasaran kritikan orang-orang diluar Islam dan dari orang Islam yang kurang mengerti ajaran agamanya, ialah iman kepada takdir Allah. Mereka menyangka bahwa iman kepada takdir itu membuat orang menjadi lalai dan segan berusaha, malas mencari rezeki dan adaptis, karena merasa bahwa segala sesuatu telah ditentukan lebih dahulu oleh Allah. Kepercayaan kepada takdir (ketentuan-ketentuan) Allah, tidak menghalangi kita untuk berusaha. Karena ketentuan Allah, ada yang mempunyai syarat dan adapula yang mutlak. Diantara yang mempunyai syarat misalnya hasil usaha manusia itu sendiri, kalau ia berbuat baik, ia akan diberi hasil yang baik pula, jika iaa berbuat aniaya, dusta dan ingkar maka Allah tidak akan menyelamatkannya.
 Kepercayaan kepada Takdir Allah, dapat mengurangi rasa tertekan jiwa karena kegagalan dalam usaha atau dalam hidup pada umumnya. Dengan kepercayaan yang keenam ini dapat dihindari rasa kecewa atau frustasi yang mendalam. Hal itu akan menolong dalam menjamin Kesehatan Mental orang yang beriman.






Kesimpulan
Sebagai kesimpulan dari uraian-uraian terdahulu ialah, bahwa pokok-pokok keimanan yang diwajibkan umat Islam, sangat penting artinya bagi Kesehatan Mental. Karena keimanan memupuk dan mengembangkan fungsi-fungsi jiwa dan memelihara keseimbangannya serta menjamin ketentraman batin.
Apabila keimanan tidak ada dalam hati seseorang, keseimbangan jiwanya akan terganggu, karena salah satu unsurnya terutama perasaan tidak dipupuk. Apalagi kalau ilmu pengetahuannya luas, maka kepincangan antara rasio dan emosinya akan sangat menonjol. Maka kegoncangan jiwa akan terjadi bahkan mungkin diiringi oleh gangguan dan penyakit jiwa. Untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat perlu agama dengan intinya kepercayaan dan perbuatan (iman dan amal).

Daftar Pustaka
Zakiah, Dr, D., Islam dan Kesehatan Mental. PT Gunung Agung, Jakarta: 1982.
Aulia, Prof.Dr.H., Agama dan Kesehatan Badan/Djiwa. Bulan Bintang, Jakarta: 1970.


[1] Zakiah, Dr, D., Islam dan Kesehatan Mental. PT Gunung Agung, Jakarta: 1982.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar