ISLAM DAN KESEHATAN MENTAL

Di Susun Oleh:
Syahrul Iman 1113052000031
Cahya Ristia 1113052000001
Isna Mutmainah 1113052000047
Hajar Aswad 1113052000022
JURUSAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2015
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr.wb.
Pertama-tama puji dan syukur kami panjatkan
dengan hati dan pikiran yang tulus atas kehadirat Allah SWT, karena berkat
rahmat dan Ridho-Nya kami dapat menyelasaikan makalah ini dengan baik dan tepat
pada waktunya.
Shalawat beserta salam
semoga selalu terlimpah curahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW,
karena dengan segala perjuangan-Nya kita dapat mengisi lembar demi lembar
kehidupan ini dalam keadaan aman, nyaman dan tentram. Jauh dari apa yang Nabi
rasakan dalam membangun peradaban ini menjadi jauh lebih baik lagi. Semoga
dengan segala kesempatan terbaik ini, kita dapat meningkatkan frekuensi
keimanan dan ketakwaan kita terhadap Allah SWT, dan juga menambah rasa mahabah
kita terhadap Nabi Muhammad SAW.
Dan tak lupa kami haturkan
beribu-ribu terimakasih kepada Ibu Nasichah selaku dosen pengampu pada mata kuliah Islam dan Kesehatan Mental, yang telah
membimbing dan mengarahkan penyusunan dalam pembuatan tugas makalah.
Kiranya dalam penulisan makalah ini
ada kekeliruan dan kesalahan kami mohon kritik dan saran yang membangun
motivasi kami. Demikianlah yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan makalah ini
dapat bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Jakarta, 1 Desember 2015.
FUNGSI IMAN DALAM
KESEHATAN MENTAL
Apabila seseorang
dikuasai oleh perasaan semata, sudah pasti bakal banyak masalah akan terjadi,
karena tindakan dan perbuatannya sukar untuk dipertanggung jawabkan dan sulit
mengukur dan menilainya. Ukuran perasaan itu sangat mudah berubah dan banyak
macam, menurut keadaan dan tempat. Akan tetapi, jika yang dipentingkan hanya
pikiran (rasio) saja, perasaan tidak diindahkan, maka akan sukarlah orang
bergaul. Perasaan itu tidak bisa disingkarkan sama sekali, karena ia bekerja
dan mempunyai pengaruh yang tidak disadari oleh pikiran. Seseorang yang
keimanannya telah menguasainya, walau apapun yang terjadi tidak akan menggaggu
atau mempengaruhinya. Ia yakin bahwa
keimanan itu akan membawanya kepada ketentraman dan kelegaan batin. Maka
sesuatu yang diimani itu hendaknya selalu ada dan terpelihara baik. Apabila
yang dipercayai itu pada suatu ketika hilang atau tidak mententramkannya lagi,
maka disini akan timbul kegoncangan perasaan yang kadang-kadang sampai
menyebabkan terjadinya perselisihan dalam keluarga atau dalam masyarakat.
Orang yang mempercayai benda-benda
kermat, azimat dan sebagainya itu biasanya selama benda-benda tersebut ada
padanya dan tampak memberi manfaat, maka ia akan merasa tentram, tapi kalau
benda tersebut hilang atau tidak menolongnya lagi, maka kegelisahan yang akan
terjadi. Obyek keimanan yang tidak akan berubah manfaatnya dan tidak akan
pernah hilang, adalah keimanan yang ditentukan oleh agama. Dalam agama Islam,
terkenal enam macam pokok keimanan (arkanul
Iman). Semuanya mempunyai fungsi yang menentukan dalam Kesehatan Mental
seseorang.
Dalam
uraian berikut kan kita bicarakan pengaruh masing-masing pokok keimanan itu
dalam Kesehatan Mental.[1]
1.
Iman Kepada Allah SWT.
Keimanan
adalah suatu proses kejiwaan yang tercakup di dalamnya semua fungsi jiwa,
perasaan dan pikiran sama-sama meyakinkannya. Apabila iman tidak sempurna, maka
manfaatnya bagi kesehatan mental pun
kurang sempurna pula. Misalnya belakangan ini di negara kita boleh dikatakan
bahwa semua orang percaya kepada Tuhan YME. Akan tetapi alangkah banyaknya
orang yang tidak mampu menggunakan kepercayaannya itu dalam hidupnya mereka
gelisah, hidup tdak tentram, dimana-mana terjadi pertengkaran dan kemusuhan,
baik dirumah tangga maupun dalam masyarakat.
Untuk dapat mencapai keimanan yang sungguh
dan menjamin kebahagiaan hidup, maka bagi seorang Muslim, percaya kepada Tuhan
YME itu harus mencakup pula percaya akan segala sifat-sifat-Nya. Kepercayaan
akan sifat-sifat-Nya itu, harus ada realisasinya dalam segala sikap dan
tindakan.
Kepercayaan
kepada Tuhan YME. Seperti telah kita jelaskan sangat penting bagi Kesehatan
Mental manusia, kepercayaan tersebut harus dimanfaatkan, digunakan dengan cara
mendekatkan diri kepada-Nya, dengan mematuhi segala suruhan dan menghentikan
semua larangan-Nya, serta hidup dalam tuntunan dan bimbingan-Nya, supaya
selamat dunia akhirat.
2.
Iman Kepada Hari Akhir
Kita
tahu bahwa semua agama samawi, percaya akan adanya hidup sesudah mati, dimana
akan ada perhitungan terhadap manusia atas tindakan dan perbuatannya di dunia.
Bahkan samawi pun, juga mempercayai akan adanya hidup sesudah hidup yang
sekarang ini.
Hari Kiamat: kapankah
dimulai hidup di alam akhirat itu? Tentunya setelah alam dunia ini berakhir. Pertanyaan
yang tidak terjawab, akan menggelisahkan batin. Karena itu, percaya akan apa
yang disebutkan Allah itu akan dapat menentramkan hati yang gelisah
Hidup sesudah
mati: Termasuk yang harus dipercayai pula
dalam rangkaian iman akan hari akhirat itu ialah bahwa semua orang sejak dunia
terkembang sampai hari kiamat akan bangkit, hidup kembali.
Perhitungan dan
pembalasan: Diantara masalah yang terpenting dalam
kepercayaan akan adanya alam akhirat, yang membawa kepada ketentaraman batin
pula, adalah adanya perhitungan dan pembalasan atas segala amal perbuatan di
dunia,
Surga dan
neraka: Percaya akan adanya surga dan neraka
termasuk salah satu bagian dari kepercayaan akan adanya akhirat.
Jadi
kepercayaan akan adanya hari akhirat mencakup segala sesuatu yang berhubungan
dengan akhirat itu, mulai dari hari kiamat, hari berbangkit, perhitungan dan
pembalasan (dengan surga atau neraka), akan menentramkan batin, selanjutnya
menjamin Kesehatan Mental yang dibutuhkan oleh setiap jiwa.
3.
Iman Kepada Malaikat
Dalam
ajaran Islam, kita disuruh mempercayai adanya Malaikat, bahkan termasuk dalam
salah satu pokok (rukun) iman. Kepercyaan terhadap tugas Malaikat yang
disebutkan Tuhan dalam Al-Quran juga mempunyai pengaruh dalam kesehatan mental.
Salah satu tugas Malaikat yang disebut dalam Al-Quran, yang mempunyai pengaruh
terhadap ketentaraman batin manusia adalah “mendoakan dan ampun bagi orang-orang Mukmin, seperti
tersebut dalam Surat Al Mu’min ayat 7 s.d
9. Dalam ayat-ayat tersebut diatas, jelas sekali betapa besar perhatian
Malaikat terhadap manusia. Dimintakannya ampun atas segala kesalahan (dosa)
yang telah dilakukan oleh orang-orang yang beriman, didoakannya kepada Tuhan
agar orang beriman itu terlepas dari siksa neraka, serta dimasukkan kedalam
surga.
Dengan
ringkas dapat kita katakan bahwa kepercayaan akan adanya malaikat, yang saleh,
taat dan suka mendoakan dan mintakan ampun itu, mempunyai arti yang besar bagi
Kesehatan Mental.
4.
Iman Kepada Kitabullah
Kita
mengetahui bahwa setiap agama mempunyai kitab Suci, yang merupakan pedoman
pokok dari ajaran agama tersebut. Dalam agama Islam Kitab Sucinya adalah
Al-Quran. Setiap orang Islam wajib mempercayai bahwa Al-Quran adalah Kalamulah,
yang langsung datang dari Allah SWT. Kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan perantara
Malaikat Jibril. Yang dimaksud dengan kepercayaan akan Kitabullah ialah Kepercayaan
akan Kitab Suci yang diturunkan Allah kepada Rasul-rasul-Nya, yang mengandung
pedoman dan tuntunan bagi umat manusia, datang-Nya dari Allah dan segala isinya
benar.
Kepercayaan
akan kebenaran isi kitab-kitab Suci itu menentramkan batin, demikian juga
keyakinan bahwa datangnya dari Allah pun menghindarkan kecemasan dan
kegoncangan jiwa. Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa kepercayaan akan
kitab-kitab Suci yang diturunkan Allah itu menambah Kesehatan Mental.
5.
Iman Kepada Rasul-rasul Allah
Apabila
kita tidak percaya bahwa Nabi-nabi atau Rasul-rasul itu Utusan Allah, maka
tidak akan dapat kita menjalankan agama, karena tuntunan yang dibawa oleh
Nabi-nabi itu tersimpul dalam agama. Selanjutnya kita tidak akan sanggup pula
mendekatkan diri kepada Allah, sehingga berakibat datangnya kecemasan dan
kegelisahan. Dengan mempercayai semua Nabi-nabi utusan Allah, beserta
ajaran-ajaran agama yang mereka bawa, akan dapatlah seluruh umat beragama
didunia ini bersatu, hidup rukun dan damai, dengan penuh penghargaan,
pengertian dan kasih sayang. Karena yang menimbulkan perselisihan dan
percekcokan antara penganut satu agama dan lainnya adalah rasa tidak dihargai
atau dipandang hina dan disangka palsu.
Dari
segi Kesehatan Mental, dapat dengan tegas kita katakan bahwa kepercayaan kepada
Nabi-nabi Allah itu menentramkan batin dan memungkinkan persatuan dengan semua
penganut agama yang mereka bawa. Karena pengakuan terhadap seseorang berarti
menghargai dan menempatkannya dalam tempat yang wajar.
6.
Iman Kepada Takdir
Diantara
pokok ajaran Islam yang sering menjadi sasaran kritikan orang-orang diluar
Islam dan dari orang Islam yang kurang mengerti ajaran agamanya, ialah iman
kepada takdir Allah. Mereka menyangka bahwa iman kepada takdir itu membuat
orang menjadi lalai dan segan berusaha, malas mencari rezeki dan adaptis,
karena merasa bahwa segala sesuatu telah ditentukan lebih dahulu oleh Allah.
Kepercayaan kepada takdir (ketentuan-ketentuan) Allah, tidak menghalangi kita
untuk berusaha. Karena ketentuan Allah, ada yang mempunyai syarat dan adapula yang
mutlak. Diantara yang mempunyai syarat misalnya hasil usaha manusia itu
sendiri, kalau ia berbuat baik, ia akan diberi hasil yang baik pula, jika iaa
berbuat aniaya, dusta dan ingkar maka Allah tidak akan menyelamatkannya.
Kepercayaan kepada Takdir Allah, dapat
mengurangi rasa tertekan jiwa karena kegagalan dalam usaha atau dalam hidup
pada umumnya. Dengan kepercayaan yang keenam ini dapat dihindari rasa kecewa
atau frustasi yang mendalam. Hal itu akan menolong dalam menjamin Kesehatan Mental
orang yang beriman.
Kesimpulan
Sebagai
kesimpulan dari uraian-uraian terdahulu ialah, bahwa pokok-pokok keimanan yang
diwajibkan umat Islam, sangat penting artinya bagi Kesehatan Mental. Karena
keimanan memupuk dan mengembangkan fungsi-fungsi jiwa dan memelihara
keseimbangannya serta menjamin ketentraman batin.
Apabila
keimanan tidak ada dalam hati seseorang, keseimbangan jiwanya akan terganggu,
karena salah satu unsurnya terutama perasaan tidak dipupuk. Apalagi kalau ilmu
pengetahuannya luas, maka kepincangan antara rasio dan emosinya akan sangat
menonjol. Maka kegoncangan jiwa akan terjadi bahkan mungkin diiringi oleh
gangguan dan penyakit jiwa. Untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat perlu
agama dengan intinya kepercayaan dan perbuatan (iman dan amal).
Daftar Pustaka
Zakiah, Dr, D., Islam dan Kesehatan Mental. PT Gunung Agung, Jakarta: 1982.
Aulia,
Prof.Dr.H., Agama dan Kesehatan
Badan/Djiwa. Bulan Bintang, Jakarta: 1970.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar