Sabtu, 09 April 2016

Pendekatan Teori Belajar dalam Komunikasi Persuasif

Pendekatan Teori Belajar dalam Komunikasi Persuasif
Aspek-aspek yang terdapat dalam Teori Belajar dalam Komunikasi Persuasif, antara lain berikut ini :
a.         Classical Conditioning
b.         Operant Conditioning
c.         Pendekatan Inkolusi
d.         Aplikasi masing-masing teori dalam Komunikasi Persuasif
A.        Classical Conditioning
Menurut Klausmeier (1966 dalam Soedijanto, 1978), Classical Conditioning adalah timbulnya respons dan stimulus netral atau stimulus yang seharusnya tidak akan menumbuhkan respons tersebut.[1]
Dahar (1989) menjelaskan tentang Classical Conditioning adalah suatu proses dimana stimulus netral memperoleh kapasitas untuk mengeluarkan respons-respons melalui asosiasidengan stimulus  tak terkondisi.[2]
Berdasarkan beberapa definisi yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa Classical Conditioning adalah suatu bentuk belajar yang memungkinkan organism memberikan respons terhadap suatu rangsang yang sebelumnya tidak menimbulkan respons tersebut.
Unsure-unsur Classical Conditioning terdiri dari Unconditional Stimulus (UCS), Unconditional Response (UCR), dan Conditional Stimulus (CS).[3]
a.         Unconditional Stimulus adalah stimulus yang secara wajar dan otomatis menimbulkan respons pada organism. Dalam eksperimen Pavlov, UCS adalah makanan, dan respons yang ditimbulkan adalah pengeluaran air liur pada anjing percobaan.
b.         Unconditional Respons adalah respons yang secara wajar dan otomatis ditimbulkan oleh UCS. Dalam percobaan Pavlov, UCR adalah pengeluaran air liur.
c.         Conditioned Stimulus adalah stimulus yang netral, yang tidak menimbulkan suatu respons waar dan otomatis pada organism. Dalam penelitian Pavlov, yang bertindak sebagai CS adalah bunyi lonceng.
B.        Operant Conditioning
Welker (1973) mendefinisikan Operant Conditioning sebagai suatu prosedur dimana seseorang dapat mengontrol tingkah laku organism melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan yang relative bebas. Kemudian, Hardy dan Heyes (1985) memberi batasan Operant Conditioning sebagai suatu respons yang mendapat penguatan berupa sesuatu yang diminta atau dibutuhkan ataupun disukai oleh organisme yang muncul berulang-ulang. [4]
Soewondo (1980) menjelaskan tentang Operant Conditioning adalah (1) Cara belajar yang dilakukan oleh organism lebih aktif, adanya aspek “Operasi”; (2) untuk terjadinya proses belajar, harus terjadi respons yang disusul dengan Stimulus-Respons (Reinforcer); (3) Respons dikuasai oleh factor consequent;(4) Stimulus-Respons tidak menimbulkan respons, [5]
Berdasarkan beberapa pengertian dan penjelasan Operant Conditioning telah dikemukakan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Operant Conditioning adalah penggunaan konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan dan tak menyenangkan untuk mengubah perilaku individu.
1.         Mekanisme Belajar Operant Conditioning
Throndike merumuskan konsep belajar, dengan prinsip utamanya yang terkenal dengan Law of effect.
2.         Pengembangan Konsep Operant Conditioning
Skinner mengembangkan Law off effect dari Throndike dengan menambahkan unsure reinforcement atau penguatan.
3.         Komponen-komponen Penguatan (Reinforcement)
Ada lima konsep yang berkaitan dengan jadwal penguatan dan pengaruhnya dengan taraf respond an taraf penghapusan, yakni penguatan kontinu, penguatan rasio-tetap, penguatan selang-tetap, penguatan rasio-berubah dan penguatan selang-berubah.
•           Penguatan kontinu (continuous reinforcement) digunakan dalam prosedur dihentikan, penghapusan respons pun terjadi pula, dan kecepatannya hampir sama dengan pengukuhan.
•           Penguatan rasio-tetap (fixed-ratio reinforcement) melalui metode ini, dapat ditunjukkan adanya taraf respons yang cepat dan taraf penghapusan yang sama cepatnya pula.
•           Penguatan selang-tetap (fixed-interval reinforcement) dengan metode ini perilaku subjek percobaan mendapatkan penguatan hanya sesudah periode waktu yang tetap, dengan syarat paling tidak ada sekali respons selama periode waktu tersebut. Berdasarkan metode ini, diketahui adanya taraf respons yang lambat; sering kali adanya respons hanya satu kali. Proses penghapusan ternyata dapat cepat terjadi.
•           Penguatan rasio-berubah (variable ratio reinforcement) melalui metode ini, penguatan diberikan setelah rata-rata banyaknya respons tertentu. Metode ini menunjukkan adanya taraf respons yang mantap dan tahan terhadap penghapusan. Dalam penelitian Skinner, binatang akan membuat beberapa respons terlebih dahulu sebelum penghapusan terjadi.
•           Penguatan selang-berubah (variable-ratio reinforcement) berdasarkan metode ini tampak bahwa terjadi respons yang mantap, namun tidak setinggi pada jadwal Penguatan Rasio Berubah.
4.         Operant Conditioning dan Perilaku
Skinner membedakan tingkah laku menjadi 2 jenis, yakni tingkah laku respinden dan tingkah laku operant.
C.        Pendekatan Inokulasi
William J. McGuire dan kawan-kawannya, tahun 1961 melakukan serangkaian penelitian  eksperimental yang disebutnya sebagai “Teori Inokulasi (Theory of Inoculation). Pendekatan inokulasi McGuire merupakan analogi dengan proses penggunaan imunisasi untuk jenis penyakit tertentu. Dalam situasi biologis , seseorang dapat menjadi kebal terhadap serangan virus dengan cara diberi terpaan untuk memperlemah dosis virus dengan tujuan untuk menstimulasi perlawanan pertahanannya yang disebabkan oleh serangan kuman virus tersebut.
Melalui proses inokulasi, seseorang dapat mengelurakan lebih sedikit dosis argumentasinya dengan orang lain yang mungkin menggunakannya agar jangan digunakan untuk kepercayaannya.
Melalui pendekatan inokulasi, seseorang akan menolak persuasi dengan cara mempertahankan posisinya sehingga ia menjadi tidak peka terhadap pesan-pesan persuasi yang dating dari orang lain.
D.        Implikasi teori belajar dalam Komunikasi Persuasif
Persuasi dapat dipandang sebagai suatu cara belajar. manusia dapat belajar tentang fenomena-fenomena yang ada dihadapannya. manusia dapat merubah respon yang berkaitan dengan sikap. Belajar persuasi merupakan suatu gabungan produk pesan yang diterima individu dan mengantarai berbagai kekuatan didalam individu yang berdasarkan pesan-pesan persuasive.[6]
E. Teori konsistensi afektif-kognitif
Teori ini mrngonsentrasikan pada apa yang terjadi pada dalam diri individu dalam kaitannya dengan komponen-komponen afektif dan kognitif. Yang kita kaji adalah hal-hal yang berkaitan dengan­­­ objek sikap dan kaitan antara objek sikap tersebut dengan nilai-nilai yang dianut oleh seseorang. Isi teori ini menyatakan bahwa sikap berhubungan dengan nilainilai sentral, dan memberikan kerangka untuk menjelaskan korelasi antara sifat dasar dan kekuatan perasaan yang berkaiatan degan objek sikap di satu sisis, dan dilain sisi, dengan kepercayaan dan persepsi (Applebaum dan Antol, 1974). Dengan kata lain, Rosenberg memfokuskan perhatiannya pada aspek yang terjadi pada diri individu pada saat terjadi perubahan sikap.[7]
Kaitan antara komponen kognitif dan afektif, oeh Rosenberg dijelasskan sebagai berikut bahwa apabila antara komponen kognitif dan komponen afektif bersifat konsisiten satu sama lainnya maka sikap seseorang akan berada dalam kondisi yang stabil. Sebaliknya apabila menunjukan ketidakkonsistenan maka sikap seseorang berada dala kondisi tidak stabil. Kondisi tidak stabil akan membawa pada aktivitas reorganisasi yanspontan menuju pada kondisi tercapainnya konsistensi afektif-kognitif atau menempatkan inkonsistensi yang tidak  terselesaika tersebut diluar batass kesadaran aktif (Applebaum dan Antol, 1974).[8]
Jika berkaitan dengan dampak komunikasi pesuasif, Cohen (1964) mengatakan bahwa ‘’Akan diterima oleh seseorang (atu palin tidak akan dilihat olehnyadengan senang hati atau persuasif jika sikap itu tidak mengalami perubbahan) secara sedikit demi sedikit dimana merekaa menolong untuk mengubah ketidak seimbangan kognitifnya (Applebaum dan Antol, 1974).
F.         Teori disonansi kognitif
Teori disonansi  (festinger, 1954; Brehm dan Cohen, 1962; Aronson, 1968) membahas tentang ketidak kosistenan dalam psikologis mengenai apa yang diketahui seseorang dan bagaimana mereka bertindak, serta bagaimana mereka memperlakukan ketidak konsistenan tersebut.
Konsep dan Proses Disonansi Kognitif
Tingkat Disonansi
Tingkat disonansi merujuk kepada jumlah kuantitatif dari perasaan tidak nyaman yang dirasakan seseorang. Ada tiga faktor dapat mempengaruhi tingkat disonansi (Zimbardo,Ebbesen & Maslach, 1977), yaitu :
1.      Tingkat Kepentingan (importance), faktor dalam menentukan tingkat disonansi, merujuk pada berapa signifikan permasalahan.
2.      Kedua, Jumlah disonansi dipengaruhi oleh Rasio Disonansi (dissonance ratio) atau jumlah kognisi disonan berbanding dengan jumlah kognisi yang konsonan.
3.      Ketiga, Tingkat Disonansi dipengaruhi oleh rasionalitas (rationale) merujuk kepada alasan yang dikemukakan untuk menjelaskan mengapa sebuah inkonsistensi muncul.[9]


[1][1] Soleh soemirat dkk, komunikasi persuasive, Jakarta: Universitas terbuka, 2007
[2] Soleh soemirat dkk, komunikasi persuasive,
[3] Soleh soemirat dkk, komunikasi persuasive,
[4] Soleh soemirat dkk, komunikasi persuasive,  Jakarta: Universitas terbuka, 2007
[5] Soleh soemirat dkk, komunikasi persuasive,
[6] Soleh soemirat dkk, komunikasi persuasive, , Jakarta: Universitas terbuka, 2007
[7] Soleh soemirat dkk, komunikasi persuasive,
[8] Soleh soemirat dkk, komunikasi persuasive, , Jakarta: Universitas terbuka, 2007
[9] http://www.academia.edu/6008535/TEORI_DISONANSI_KOGNITIF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar