Pendekatan
Teori Belajar dalam Komunikasi Persuasif
Aspek-aspek
yang terdapat dalam Teori Belajar dalam Komunikasi Persuasif, antara lain
berikut ini :
a. Classical Conditioning
b. Operant Conditioning
c. Pendekatan Inkolusi
d. Aplikasi masing-masing teori dalam
Komunikasi Persuasif
A. Classical Conditioning
Menurut
Klausmeier (1966 dalam Soedijanto, 1978), Classical Conditioning adalah
timbulnya respons dan stimulus netral atau stimulus yang seharusnya tidak akan
menumbuhkan respons tersebut.[1]
Dahar
(1989) menjelaskan tentang Classical Conditioning adalah suatu proses dimana
stimulus netral memperoleh kapasitas untuk mengeluarkan respons-respons melalui
asosiasidengan stimulus tak terkondisi.[2]
Berdasarkan
beberapa definisi yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa Classical
Conditioning adalah suatu bentuk belajar yang memungkinkan organism memberikan
respons terhadap suatu rangsang yang sebelumnya tidak menimbulkan respons
tersebut.
Unsure-unsur
Classical Conditioning terdiri dari Unconditional Stimulus (UCS), Unconditional
Response (UCR), dan Conditional Stimulus (CS).[3]
a. Unconditional Stimulus adalah stimulus
yang secara wajar dan otomatis menimbulkan respons pada organism. Dalam
eksperimen Pavlov, UCS adalah makanan, dan respons yang ditimbulkan adalah
pengeluaran air liur pada anjing percobaan.
b. Unconditional Respons adalah respons
yang secara wajar dan otomatis ditimbulkan oleh UCS. Dalam percobaan Pavlov,
UCR adalah pengeluaran air liur.
c. Conditioned Stimulus adalah stimulus
yang netral, yang tidak menimbulkan suatu respons waar dan otomatis pada
organism. Dalam penelitian Pavlov, yang bertindak sebagai CS adalah bunyi
lonceng.
B. Operant Conditioning
Welker
(1973) mendefinisikan Operant Conditioning sebagai suatu prosedur dimana
seseorang dapat mengontrol tingkah laku organism melalui pemberian
reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan yang relative bebas. Kemudian,
Hardy dan Heyes (1985) memberi batasan Operant Conditioning sebagai suatu
respons yang mendapat penguatan berupa sesuatu yang diminta atau dibutuhkan
ataupun disukai oleh organisme yang muncul berulang-ulang. [4]
Soewondo
(1980) menjelaskan tentang Operant Conditioning adalah (1) Cara belajar yang
dilakukan oleh organism lebih aktif, adanya aspek “Operasi”; (2) untuk
terjadinya proses belajar, harus terjadi respons yang disusul dengan
Stimulus-Respons (Reinforcer); (3) Respons dikuasai oleh factor consequent;(4)
Stimulus-Respons tidak menimbulkan respons, [5]
Berdasarkan
beberapa pengertian dan penjelasan Operant Conditioning telah dikemukakan maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa Operant Conditioning adalah penggunaan
konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan dan tak menyenangkan untuk mengubah
perilaku individu.
1. Mekanisme Belajar Operant Conditioning
Throndike
merumuskan konsep belajar, dengan prinsip utamanya yang terkenal dengan Law of
effect.
2. Pengembangan Konsep Operant
Conditioning
Skinner
mengembangkan Law off effect dari Throndike dengan menambahkan unsure
reinforcement atau penguatan.
3. Komponen-komponen Penguatan
(Reinforcement)
Ada
lima konsep yang berkaitan dengan jadwal penguatan dan pengaruhnya dengan taraf
respond an taraf penghapusan, yakni penguatan kontinu, penguatan rasio-tetap,
penguatan selang-tetap, penguatan rasio-berubah dan penguatan selang-berubah.
• Penguatan kontinu (continuous
reinforcement) digunakan dalam prosedur dihentikan, penghapusan respons pun
terjadi pula, dan kecepatannya hampir sama dengan pengukuhan.
• Penguatan rasio-tetap (fixed-ratio
reinforcement) melalui metode ini, dapat ditunjukkan adanya taraf respons yang
cepat dan taraf penghapusan yang sama cepatnya pula.
• Penguatan selang-tetap
(fixed-interval reinforcement) dengan metode ini perilaku subjek percobaan
mendapatkan penguatan hanya sesudah periode waktu yang tetap, dengan syarat
paling tidak ada sekali respons selama periode waktu tersebut. Berdasarkan
metode ini, diketahui adanya taraf respons yang lambat; sering kali adanya respons
hanya satu kali. Proses penghapusan ternyata dapat cepat terjadi.
• Penguatan rasio-berubah (variable
ratio reinforcement) melalui metode ini, penguatan diberikan setelah rata-rata
banyaknya respons tertentu. Metode ini menunjukkan adanya taraf respons yang
mantap dan tahan terhadap penghapusan. Dalam penelitian Skinner, binatang akan
membuat beberapa respons terlebih dahulu sebelum penghapusan terjadi.
• Penguatan selang-berubah
(variable-ratio reinforcement) berdasarkan metode ini tampak bahwa terjadi
respons yang mantap, namun tidak setinggi pada jadwal Penguatan Rasio Berubah.
4. Operant Conditioning dan Perilaku
Skinner
membedakan tingkah laku menjadi 2 jenis, yakni tingkah laku respinden dan
tingkah laku operant.
C. Pendekatan Inokulasi
William
J. McGuire dan kawan-kawannya, tahun 1961 melakukan serangkaian penelitian eksperimental yang disebutnya sebagai “Teori
Inokulasi (Theory of Inoculation). Pendekatan inokulasi McGuire merupakan
analogi dengan proses penggunaan imunisasi untuk jenis penyakit tertentu. Dalam
situasi biologis , seseorang dapat menjadi kebal terhadap serangan virus dengan
cara diberi terpaan untuk memperlemah dosis virus dengan tujuan untuk
menstimulasi perlawanan pertahanannya yang disebabkan oleh serangan kuman virus
tersebut.
Melalui
proses inokulasi, seseorang dapat mengelurakan lebih sedikit dosis
argumentasinya dengan orang lain yang mungkin menggunakannya agar jangan
digunakan untuk kepercayaannya.
Melalui
pendekatan inokulasi, seseorang akan menolak persuasi dengan cara mempertahankan
posisinya sehingga ia menjadi tidak peka terhadap pesan-pesan persuasi yang
dating dari orang lain.
D. Implikasi teori belajar dalam Komunikasi
Persuasif
Persuasi
dapat dipandang sebagai suatu cara belajar. manusia dapat belajar tentang fenomena-fenomena
yang ada dihadapannya. manusia dapat merubah respon yang berkaitan dengan
sikap. Belajar persuasi merupakan suatu gabungan produk pesan yang diterima
individu dan mengantarai berbagai kekuatan didalam individu yang berdasarkan
pesan-pesan persuasive.[6]
E. Teori konsistensi
afektif-kognitif
Teori
ini mrngonsentrasikan pada apa yang terjadi pada dalam diri individu dalam
kaitannya dengan komponen-komponen afektif dan kognitif. Yang kita kaji adalah
hal-hal yang berkaitan dengan objek sikap dan kaitan antara objek sikap
tersebut dengan nilai-nilai yang dianut oleh seseorang. Isi teori ini
menyatakan bahwa sikap berhubungan dengan nilainilai sentral, dan memberikan
kerangka untuk menjelaskan korelasi antara sifat dasar dan kekuatan perasaan
yang berkaiatan degan objek sikap di satu sisis, dan dilain sisi, dengan
kepercayaan dan persepsi (Applebaum dan Antol, 1974). Dengan kata lain,
Rosenberg memfokuskan perhatiannya pada aspek yang terjadi pada diri individu
pada saat terjadi perubahan sikap.[7]
Kaitan
antara komponen kognitif dan afektif, oeh Rosenberg dijelasskan sebagai berikut
bahwa apabila antara komponen kognitif dan komponen afektif bersifat konsisiten
satu sama lainnya maka sikap seseorang akan berada dalam kondisi yang stabil.
Sebaliknya apabila menunjukan ketidakkonsistenan maka sikap seseorang berada
dala kondisi tidak stabil. Kondisi tidak stabil akan membawa pada aktivitas
reorganisasi yanspontan menuju pada kondisi tercapainnya konsistensi
afektif-kognitif atau menempatkan inkonsistensi yang tidak terselesaika tersebut diluar batass kesadaran
aktif (Applebaum dan Antol, 1974).[8]
Jika
berkaitan dengan dampak komunikasi pesuasif, Cohen (1964) mengatakan bahwa
‘’Akan diterima oleh seseorang (atu palin tidak akan dilihat olehnyadengan
senang hati atau persuasif jika sikap itu tidak mengalami perubbahan) secara
sedikit demi sedikit dimana merekaa menolong untuk mengubah ketidak seimbangan
kognitifnya (Applebaum dan Antol, 1974).
F. Teori
disonansi kognitif
Teori
disonansi (festinger, 1954; Brehm dan
Cohen, 1962; Aronson, 1968) membahas tentang ketidak kosistenan dalam
psikologis mengenai apa yang diketahui seseorang dan bagaimana mereka
bertindak, serta bagaimana mereka memperlakukan ketidak konsistenan tersebut.
Konsep dan Proses Disonansi Kognitif
Tingkat Disonansi
Tingkat disonansi merujuk kepada jumlah kuantitatif
dari perasaan tidak nyaman yang dirasakan seseorang. Ada tiga faktor dapat
mempengaruhi tingkat disonansi (Zimbardo,Ebbesen & Maslach, 1977), yaitu :
1.
Tingkat
Kepentingan (importance), faktor dalam menentukan tingkat disonansi, merujuk
pada berapa signifikan permasalahan.
2.
Kedua, Jumlah
disonansi dipengaruhi oleh Rasio Disonansi (dissonance ratio) atau jumlah
kognisi disonan berbanding dengan jumlah kognisi yang konsonan.
3.
Ketiga, Tingkat
Disonansi dipengaruhi oleh rasionalitas (rationale) merujuk kepada alasan yang
dikemukakan untuk menjelaskan mengapa sebuah inkonsistensi muncul.[9]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar