Selasa, 31 Mei 2016

Retorika Ky H Syukron Ma’mun





Retorika Ky H Syukron Ma’mun
Supaya pesan dakwah tersampaikan dengan baik dan berbekas dihati pendengar tentu harus dibekali dengan ilmu kepandaian berbicara dalam menyampaikan pesannya, ilmu yang membehasnya adalah retorika. Paper ini akan mengupas secara ringkas retorika dari Ky H Syukron Ma’mun, dimana retorika adalah ilmu tentang keterampilan berbahasa yang indah dan mengandung unsur seni melalui berbicara. Menurut Aristoteles seorang filsuf yang terkenal mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan retorika adalah ilmu yang mengajarkan orang keterampilan menemukan secara persuatif dan objek suatu kasus. Pengetahuan mengenai ilmu atau teori berbicara akan sangat bermanfaat dalam menunjang kemahiran serta keberhasilan seni atau praktek berbicara.[1]
Dari pengamatan saya selama 3 tahun menuntut ilmu di Pondok Pesantren Daarul Rahman III parung sebagai murid Ky H Syukron Ma’mun dapat saya simpukan bahwa retorika beliah adalah sebagai berikut:
Beliau mempuyai suara yang berat dan sangat tegas, bukan hanya saat memberikan salam namun disetiap apa yang beliau bicarakan. Beliau menggunakan suara dada dan beliau mempunyai ciri khas suara serak-serak basah, Pesan beliau tersampaikan dengan baik, karena beliau mampu menguasai emosi mad’u dan langgam yang beliau gunakan sangat menarik yaitu langgam agama, langggam agigator, langgam konservarif dan langgam dikdatik setiapa apa yang beliau bicarakan tidak berputar-putar. Pada komposisi pesannya, cerama Ky H Syukron Ma’mun menunjukan susunan yang sistematis dalam penyajiannya selain itu cerama yang beliau sampaikan sangat menarik dan pola kalimat yang beliau susun mudah untuk dicerna didukung oleh tekana-tekana yang disesuaikan oleh konteks kalimatnya, disetiap pidatonya memiliki klimaks dan memiliki tujuan wajar saja lebih dari 40 tahun beliau menjadi Dai. Selain itu pidato yang disampaikan beliau tidak hanya pidato informatif meliankan pidato inormati persuasi dalam mempersuasif beliau menggunakan teknik pencitraan dimana beliau menyentuh alat-alat indra para mad’u, sehingga mereka merasakan apa yag beliau rasakan seperti beliau pernah berceerita kapada saya dan teman-teman saat SMA dulu ketika beliau menjadi pembicara ditempat terpencil dimana listrik belum sampai, beliau menceritakan betapa gelapnya didaerah tersebut sehingga kami terbawa oleh apa yang beliau ceritakan.
Isi pidato beliau sangatlah keras dan tegas, beliau tidak akan membiarkan seseorang menganggu agamanya bahkan beliau dengan berani mengatakan liberalisme adalah ajaran iblis wajar saja jika beliau dijuluki sebagai singa podium ‘’jika tidak dibatasi dengan akhlak, etik dan agama islam, maka liberalisme akan menjadi ajaran iblis. Liberalisme dan HAM sesungguhnya adalah tujuan dari AS untuk ‘’membinantangkan’’ bangsa indonesia. Sebab masyarakat dibebaskan melakukan apa saja termasuk melakukan berbagai kemaksiatan dengan dalil HAM. Sykron ma’mune boleh mati, tapi islam tidak akan pernah mati saya menginginkan jakarta ‘’dikepung’’ oleh pondok pesantren dari segala penjuru.’’
Menurut saya Ky H Syukron Ma’mun telah memahami karakteristik mad’u baik dari kalangan publik internal (karyawan, stocholder) maupun publik eksternal (pemerintah, masyarakat sekitar, media/per), karena beliau bisa menempatkan diri dan berusaha memahami keadaan dimana beliau berada seperti mengetahui kondisi kepribadian dan kondisi fisik khalayak dan memahami nilai-nilai ayau norma-norma dalam kelompok masyarakat.
Saat berpidato beliau tidak pernah terlihat gerogi atau demam panggung, pembawaan beliau tenang dan menikmatai setiap untaian kata yang beliau ucapkan, apa yang beliau ucapkan seperti sudah ada diuar kepala tidak terlihat menghaal apalagi membaca teks apa yang beliaukatakan benar-benar natural, mungkin salah satu kuncinya adalah latihan karena beliau sering menasehati kami jadilah pendakwah yang selalu siap kapanpun dan dimanapun kamu berada dan diminta untuk berpidato caranaya adalah melatih diri setiap saat, inilah garis besar perkataan beliau yang saya ingat. Ky H Sykron Ma’mun bukan hanya bisa membaca al-Quran dengan baik, melainkan juga sanggup menasirkannya secara kontekstual. Ini mungkin karena pengetahuan bahasa arab mereka memadai sehingga dimungkinkan beliau sudah melahap tumpuka referensi islam.
Media dakwah beliau adalah bertatap langsung atau berdiri dipodium, beliau tidak menggunakan Media Massa untuk menyampaikan pidatonya namun karena beliau adalah Ky Besar tak sedikit vidio maupun audio beliau terseber dijejaring internet sehingga masyarakat bisa mendengarkan cerama beliau tanpa harus hadir ditempat acara.
Dengan mendengarkan cerma beliau setiap minggunya saat saya masih bersekolah di tempat beliau. Ky H Sukron ma’mun mampu menguasai kaidah-kaidah retorika dengan baik. Sikap dan gaya bicara beliau yang antun menunjukan pribadi yang berkharisma sehingga pendengar terbawa atau terpersuasi dengan pidato beliau.


[1] http://www.academia.edu/6532255/Retorika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar