Retorika Ky H Syukron Ma’mun
Supaya pesan dakwah tersampaikan dengan baik dan berbekas dihati pendengar
tentu harus dibekali dengan ilmu kepandaian berbicara dalam menyampaikan pesannya, ilmu yang
membehasnya adalah retorika. Paper ini akan mengupas secara ringkas
retorika dari Ky H Syukron Ma’mun, dimana retorika adalah ilmu tentang
keterampilan berbahasa yang indah dan mengandung unsur seni melalui berbicara.
Menurut Aristoteles seorang filsuf yang terkenal mengemukakan bahwa yang
dimaksud dengan retorika adalah ilmu yang mengajarkan orang keterampilan
menemukan secara persuatif dan objek suatu kasus. Pengetahuan mengenai ilmu
atau teori berbicara akan sangat bermanfaat dalam menunjang kemahiran serta
keberhasilan seni atau praktek berbicara.[1]
Dari
pengamatan saya selama 3 tahun menuntut ilmu di Pondok Pesantren Daarul Rahman
III parung sebagai murid Ky H Syukron Ma’mun dapat saya simpukan bahwa retorika
beliah adalah sebagai berikut:
Beliau
mempuyai suara yang berat dan sangat
tegas, bukan hanya saat memberikan salam namun disetiap apa yang beliau
bicarakan. Beliau menggunakan suara dada dan beliau mempunyai ciri khas suara
serak-serak basah, Pesan beliau tersampaikan dengan baik, karena beliau mampu
menguasai emosi mad’u dan langgam yang beliau gunakan sangat menarik yaitu
langgam agama, langggam agigator, langgam konservarif dan langgam dikdatik
setiapa apa yang beliau bicarakan tidak berputar-putar. Pada komposisi
pesannya, cerama Ky H Syukron Ma’mun menunjukan susunan yang sistematis dalam
penyajiannya selain itu cerama yang beliau sampaikan sangat menarik dan pola
kalimat yang beliau susun mudah untuk dicerna didukung oleh tekana-tekana yang
disesuaikan oleh konteks kalimatnya, disetiap pidatonya memiliki klimaks dan
memiliki tujuan wajar saja lebih dari 40 tahun beliau menjadi Dai. Selain itu
pidato yang disampaikan beliau tidak hanya pidato informatif meliankan pidato
inormati persuasi dalam mempersuasif beliau menggunakan teknik pencitraan
dimana beliau menyentuh alat-alat indra para mad’u, sehingga mereka merasakan
apa yag beliau rasakan seperti beliau pernah berceerita kapada saya dan
teman-teman saat SMA dulu ketika beliau menjadi pembicara ditempat terpencil
dimana listrik belum sampai, beliau menceritakan betapa gelapnya didaerah
tersebut sehingga kami terbawa oleh apa yang beliau ceritakan.
Isi pidato beliau sangatlah keras dan tegas, beliau tidak akan membiarkan
seseorang menganggu agamanya bahkan beliau dengan berani mengatakan liberalisme
adalah ajaran iblis wajar saja jika beliau dijuluki sebagai singa podium ‘’jika
tidak dibatasi dengan akhlak, etik dan agama islam, maka liberalisme akan
menjadi ajaran iblis. Liberalisme dan HAM sesungguhnya adalah tujuan dari AS
untuk ‘’membinantangkan’’ bangsa indonesia. Sebab masyarakat dibebaskan
melakukan apa saja termasuk melakukan berbagai kemaksiatan dengan dalil HAM.
Sykron ma’mune boleh mati, tapi islam tidak akan pernah mati saya menginginkan
jakarta ‘’dikepung’’ oleh pondok pesantren dari segala penjuru.’’
Menurut saya Ky H Syukron Ma’mun telah memahami karakteristik mad’u baik
dari kalangan publik internal (karyawan, stocholder) maupun publik eksternal
(pemerintah, masyarakat sekitar, media/per), karena beliau bisa menempatkan
diri dan berusaha memahami keadaan dimana beliau berada seperti mengetahui
kondisi kepribadian dan kondisi fisik khalayak dan memahami nilai-nilai ayau
norma-norma dalam kelompok masyarakat.
Saat berpidato beliau tidak pernah terlihat gerogi atau demam panggung,
pembawaan beliau tenang dan menikmatai setiap untaian kata yang beliau ucapkan,
apa yang beliau ucapkan seperti sudah ada diuar kepala tidak terlihat menghaal
apalagi membaca teks apa yang beliaukatakan benar-benar natural, mungkin salah
satu kuncinya adalah latihan karena beliau sering menasehati kami jadilah
pendakwah yang selalu siap kapanpun dan dimanapun kamu berada dan diminta untuk
berpidato caranaya adalah melatih diri setiap saat, inilah garis besar
perkataan beliau yang saya ingat. Ky H Sykron Ma’mun bukan hanya bisa membaca
al-Quran dengan baik, melainkan juga sanggup menasirkannya secara kontekstual.
Ini mungkin karena pengetahuan bahasa arab mereka memadai sehingga dimungkinkan
beliau sudah melahap tumpuka referensi islam.
Media dakwah beliau adalah bertatap langsung atau berdiri dipodium, beliau
tidak menggunakan Media Massa untuk menyampaikan pidatonya namun karena beliau
adalah Ky Besar tak sedikit vidio maupun audio beliau terseber dijejaring
internet sehingga masyarakat bisa mendengarkan cerama beliau tanpa harus hadir
ditempat acara.
Dengan mendengarkan cerma beliau setiap minggunya saat saya masih
bersekolah di tempat beliau. Ky H Sukron ma’mun mampu menguasai kaidah-kaidah
retorika dengan baik. Sikap dan gaya bicara beliau yang antun menunjukan
pribadi yang berkharisma sehingga pendengar terbawa atau terpersuasi dengan
pidato beliau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar