cuaca semakin terik namun dua orang pemudi masih bercakap-cakap ditengah taman yang tersorot matahari, salah satu dari mereka menutup muka dan bahunya bergetar, terlihat jelas sekali ia menangis . Disisi lain temannya mondar-mandir terkadang ia menunjuk-nunjuk temannya yang sedang menangis, ia duduk dan mengusap rambut temanya.
‘’Dinda,,, kalau kayak gini mau
diapain lagi? Udah jangan nangis terus dari awal gw udah bilang sama lo,,
bahkan gw udah sering peringatin lo!!’’ ucap Rima dengan raut muka sebal.
‘’gue nggak… tau.. ka..lo… huhhh…
bakalan kayak gini’’ dengan terbata-bata Dinda melanjutkan pembelaannya ‘’gguee kemarin…’’
Dinda mengambil nafas. ‘’dia terus telpon gue, ggue kecapeaann,, dan ggue nggak
tau ka..kalo…’’. isakannya semakin kencang.
‘’udah,,, jangan nangis terus’’ Rima terus
mengusap-usap bahu temannya. ‘’gw nggak marah sama lo Din, gw cuma sebel kenapa
lo gampang banget suka sama cowok’’ Rima menggelengkan kepala tidak percaya.‘’gw
ngerti perasaan lo Din, tapi sekarang lo harus berhenti nangis,,, sekarang lo
harus move on dan tunjukin kalo dia buka cowok satu-satunya didunia ini’’. Rima terus berbicara.
’Rim,,,!!’’ Dinda mengusap air matanya dan
melihat kesumber suara.
‘’lo udah buat kita dikeluarin dari
kelas dan jangan sampai kita didatengin satpam gara-gara suara tangis lo” Rima
sewot.
Mereka terdiam suara angin menambah
kesunyian, terik matahari tak membut mereka berpindah tempat yang lebih nyaman,
mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
‘’ok,,,’’ suara Dinda memecahkan
kesunyian ia terus mendesah “gue… benci Doni,, gw … nyesel udah sayang sama
dia’’. Dinda masih menutup mukanya dan air matanya terus menetes.
‘’lo gak boleh ngulangin kesalahan
ini, lo udah dewasa buat milih cowok yang bener-bener sayang sama lo’’. Ucap
Rima tegas
‘’lo bener Rim,,, tapi memilih cowok yang bener-bener itu susah’’
Kata-kata Rima membuat suasana hati Dinda lebih tenang, ia mengusap air mata
lalu mengenggam tangan sahabatnya. mereka menghiraukan matahari yang semakin
terik. ‘’
‘’laki-laki sejati tidak memainkan
perasaan wanita Din…’’ Mata Rima terus menerawang.
Tiba-tiba Dinda memeluk Rima erat,
terdengar suara isakan yang tertahan.’’ggue.. beruntung pppunya temen kayak lo
Rim’’ suara Dinda hampir tidak terdengar. Rima membalas pelukan sahabatnya ‘’gw
juga beruntung punya sahabat nyebelin kayak lo’’.
Seketika awan menutupi matahari,
cuaca yang selagi tadi menusuk kulit berubah menjadi mendung. Tiupan angin
membuat siapa saja yang merasaknnya nyaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar